Puisi Kontemporer

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:12.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

MEMBACA PUISI KONTEMPORER

 

A.    KOMPETENSI

1.      STANDAR KOMPETENSI

15. Memahami buku kumpulan puisi kontemporer dan  karya sastra yang dianggap penting pada tiap periode

2.      KOMPETENSI DASAR

15.1     Mengidentifikasi   tema dan ciri-ciri puisi kontemporer melalui kegiatan membaca buku kumpulan puisi komtemporer

3.      INDIKATOR

1)      Mengidentifikasi tema puisi kontemporer

2)      Mengidentifikasi ciri-ciri puisi kontemporer

3)      Menjelaskan maksud isi puisi kontemporer

 

B.     RINGKASAN MATERI

A.    Pengertian Puisi

Menurut Herman Josef Waluyo, puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair yang bersifat imajinatif, yang disusun dengan pengonsentrasian segenap unsur bahasa melalui pemilihan kata, bunyi dan irama, serta penggunaan bahasa figuratif dan pengongkretan kata.  Sedangkan pengertian puisi menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia yaitu ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait.

            Dalam diktat pembelajaran ini akan difokuskan pada pembelajaran puisi kontemporer. Puisi kontemporer merupakan puisi yang lahir dalam kurun waktu terakhir, memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan puisi konvensional. Puisi jenis ini muncul sekitar tahun 1970-an. Di Indonesia yang digolongkan kontemporer saat ini adalah puisi-puisi karangan :

1.      Sutardji Calzoum Bachri, dalam kumpulan puisinya berjudul O, Amuk, dan Kapak.

2.      Ibrahim Sattah, dalam kumpulan puisinya yang berjudul Hai  Ti.

3.      Hamid Jabbar, dalam kumpulan puisinya Wajah Kita.

B.     Unsur Bentuk Puisi :

            Keindahan puisi dapat ditinjau dari unsur-unsur yang membentuk puisi tersebut. Unsur-unsur bentuk dalam puisi meliputi :

1.      Diksi atau pilihan kata

Setiap penyair memiliki kekhasan diksi. Kekhasan pemilihan kata dapat terlihat dari perbendaharaan kata, urutan kata, dan daya sugesti kata. Pilihan kata dalam puisi biasanya kata-kata yang bersifat konotatif dan puitis. Konotasi atau kias adalah kata-kata yang memiliki kemungkinan makna lebih dari satu. Puitis berarti mempunyai efek keindahan dan berbeda dari kata-kata dalam kehidupan sehari-hari.

2.      Rima                                                                                                                    

Rima atau persajakan adalah pengulangan bunyi untuk membentuk musikalitas atau membentuk efek merdu. Penggunaan rima puisi untuk mendukung perasaan dan suasana hati. Efek bunyi dalam puisi yaitu aliterasi dan asonansi.

Aliterasi merupakan efek bunyi yang dihasilkan bunyi konsonan, sedangkan asonansi merupakan efek bunyi yang dihasilkan bunyi vokal.

3.      Majas atau gaya bahasa

Unsur puitis selain diksi dan rima adalah gaya bahasa atau majas. Gaya bahasa puisi terlihat dari pemakaian kata-kata konkret, bahasa figuratif dsb. Kata-kata konkret adalah kata-kata yang dipilih penyair untuk menggambarkan sesuatu secara tepat dan intens. Bahasa figuratif/majas adalah bahasa yang digunakan penyair untuk mengungkapkan sesuatu dengan cara yang tidak biasa dan tidak secara langsung mengungkapkan makna. Bahasa figuratif, meliputi kiasan dan perlambangan.

4.      Pengimajian

Pengimajian adalah kata atau susunan kata yang bisa mengungkapkan pengalaman sensoris (indrawi) seperti penglihatan, pendengaran, perabaan, dan sebagainya. Pengimajian meliputi hal-hal sebagai berikut.

a.       imaji auditif yaitu mengungkapkan hal-hal yang seolah-olah dapat didengar oleh pembaca.

b.      Imaji  visual yaitu mengungkapkan hal-hal yang seolah-olah dapat dilihat.

c.       Imaji taktik yaitu pembaca seolah dapat merasakan, meraba,bahkan menyentuh gambaran yang disampaikan penyair.

5.      Tipografi/ tata wajah

Tipografi puisi adalah cara sebuah puisi untuk membentuk musikalitas dan orkestra dengan menggunakan larik-larik yang khas.

            Untuk memahami puisi kontemporer, kita perlu mengetahui apa yang pernah dikatakan Sutardji dalam Kredo Puisinya. (kre·do /krédo/ Lt n 1 pernyataan kepercayaan (keyakinan); 2 dasar tuntunan hidup)

 

Kredo Puisi

            Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukanlah seperti pipa yang menyalurkan air.Kata-kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.

            Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.

            Dalam keseharian kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian, dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian.

……………………………………………………………………………………………

            Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah kata, dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.

Sutardji Calzoum Bachri

Bandung, 30 Maret 1973

C.    Macam-macam Puisi Kontemporer

            Puisi kontemporer dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :

1.      Puisi mantra

2.      Puisi mbeling

3.      Puisi konkret

1.      Puisi Mantra

Puisi mantra dalam puisi kontemporer adalah puisi yang mengambil sifat-sifat mantra.

Sifat-sifat mantra yang dimaksudkan adalah sebagai berikut :

a.       Mantra bukanlah sesuatu yang untuk dipahami. Mantra adalah permainan bunyi dan bahasa belaka. Mantra harus dilihat dari sudut mantra itu sendiri, dari sudut dunianya sendiri. Oleh karena itu, soal pemahaman tidak penting. Yang penting adalah akibatnya belaka.

b.      Mantra adalah penghubung manusia dengan dunia misteri.

c.       Pentingnya soal efek atau akibat atau kemanjuran. Kemanjuran terletak pada perintah.

Perhatikan puisi “Shang Hai “ berikut ini !

Shang Hai

ping di atas pong

pong di atas ping

ping ping bilang pong

pong pong bilang ping

mau pong? bilang ping

mau mau bilang pong

mau ping? bilang pong

mau mau bilang ping

ya pong ya ping

ya ping ya pong

tak ya pong tak ya ping

kutak punya ping

kutak punya pong

pinggir ping kumau pong

tak tak bilang ping

pinggir pong kumau ping

tak tak bilang pong

sembilu jarakMu merancap nyaring

Sutadji Calzoum Bachri, 1973

Sifat-sifat mantra tampak dalam puisi “Shang Hai” ini, urutan katanya tampak disusun secara cermat. Unsur permainan bunyi sangat dipentingkan.

Coba Anda nikmati puisi berikut ini !

                        POT

pot apa pot  itu pot kaukah pot aku

                    pot pot pot

yang jawab   pot pot pot  pot kaukah pot itu

yang jawab   pot pot pot  pot kaukah pot aku

                    pot pot pot

    potapapotitu potkaukah potaku

                        POT

Sutardji Calzoum Bachri, 1970

Dalam puisi “Pot” urutan kata itu ditempatkan begitu rapi sehingga membentuk gambar. Maka puisi tersebut sering disebut puisi grafis karena mementingkan efek visual dari penyusunan baris puisi.

2.      Puisi Mbeling

Puisi mbeling bukan merupakan hasil karya penyair “mapan”, tetapi kehadirannya mau tak mau kita terima. Seperti yang dinyatakan Sapardi Djoko Damono “… Harus diakui bahwa puisi jenis ini telah memberikan sumbangan yang berharga bagi keanekaragaman puisi kita” (Sapardi Djoko Damono, 1981: 91)

Puisi mbeling muncul pertama kali pada majalah Aktuil yang terbit di Bandung. Majalah ini menyediakan lembaran khusus untuk menampung sajak. Oleh pengasuhnya Remy Sylado, lembaran khusus ini diberi nama “Puisi Mbeling”

Ciri Puisi Mbeling ;

a.      Ciri utama puisi jenis ini adalah kelakar. Kata-kata dipermainkan, arti, bunyi, dan tipografi dimanfaatkan untuk mencapai efek kelakar. Sebagian besar puisi mbeling menunjukkan bahwa maksud penyair sekedar mengajak pembaca berkelakar saja, tanpa maksud lain yang disembunyikan.

b.      Mengandung kritik sosial.

c.       Kritik terhadap dominasi lama dalam perekonomian.

d.      Ejekan terhadap sikap sungguh-sungguh penyair umumnya dalam menghadapi puisi.

Taufik Ismail menyebutnya dengan puisi yang mengkritik puisi.

Perhatikan contoh puisi mbeling berikut ini !

Sajak Sikat Gigi

Seorang lupa menggosok giginya sebelum tidur

Di dalam tidurnya ia bermimpi

Ada sikat gigi menggosok-gosok mulutnya supaya

terbuka

Ketika ia bangun pagi hari

Sikat giginya tinggal sepotong

Sepotong yang hilang itu agaknya

Tersesat di dalam mimpinya dan tak bisa kembali

Dan dia berpendapat bahwa kejadian itu terlalu berlebih-lebihan

Yudhistira Ardinugraha

3.      Puisi Konkret

Puisi konkret yaitu puisi yang mementingkan bentuk grafis atau tata wajah yang disusun mirip dengan gambar. Di samping makna yang ingin disampaikan oleh penyair, ia juga ingin memperlihatkan kemanisan susunan kata-kata dari baris serta bait yang menyerupai gambar seperti segi tiga, huruf Z, kerucut piala, belah ketupat,segi empat dan lain-lain.

Puisi konkret sangat terkenal di dunia perpuisian Indonesia sejak tahun 1970-an. Sutardji Calzoum Bachri termasuk pelopor juga. Puisi-puisi Sutardji banyak yang dapat dikategorikan puisi konkret. Puisinya yang berjudul Tragedi Winka dan Sihka (bentuk zig-zag), Q (mirip sebuah bangunan ), Kucing ( segi empat) termasuk contoh puisi konkret.

Perhatikan puisi konkret Dharma Sari di bawah ini!

Drama Sebabak

a C a r a C a

                                                          o          e

                                                                w         w

                                                          o          e

                                            C o w o K  a n d K e w e k

                                               o                           o

                                                  w                     w

                                                     e                o

                                                          e           o

                                                             e     o

                                                                   K

                                                                   a

                                                                   u

                                                   O w e e e e e k

Puisi konkret yang mirip gambar piala, yang garis-garisnya diganti dengan sepuluh huruf itu cukup unik juga. Puisi itu mengedepankan sebuah acara remaja antara cowok dan cewek yang berakhir dengan saling menuduh; Kau penyebab cewek melahirkan.

D.    Unsur-unsur yang Menonjol dalam Puisi Kontemporer

Unsur-unsur yang menonjol dalam puisi kontemporer ialah :

1.      unsur bunyi; yaitu penggunaan rima dan repetisi,

2.      unsur tipografi; yaitu susunan baris-baris atau bait-bait puisi serta cara penulisan huruf,

3.      unsur enjambemen; yaitu pemotongan kalimat atau frase pada akhir baris dan potongan lainnya diletakkan kembali pada baris berikutnya,

4.      parodi atau unsur kelakar.

E.     Makna Puisi Kontemporer

Puisi yang baik pasti memiliki makna walaupun dalam arti yang berbeda-beda. Meski Sutardji menampilkan kata-kata tanpa makna, ia masih tetap berorientasi kepada makna dalam membawa suasana. Bagaimanapun juga puisi yang berhasil mesti mempunyai makna, dan pembaca tidaklah sia-sia jika mencoba mencari makna dalam puisi-puisi kontemporer.

Perhatikan puisi Tragedi Winka dan Sihka berikut ini !

Tragedi Winka dan Sihka

kawin

         kawin

                    kawin

                               kawin

                                          kawin

                                                     ka

                                                 win

                                           ka

                                       win

                                    ka

                             win

                           ka

             win

        ka

             winka

                        winka

                                    winka

                                                sihka

                                                            sihka

                                                                        sihka

                                                                                    sih

                                                                               ka

                                                                            sih

                                                                         ka

                                                                   sih

                                                                ka

                                                            sih

                                                        ka

                                                   sih

                                                ka

                                                   sih

                                                        sih

                                                               sih

                                                                    sih

                                                                          sih

                                                                              sih

                                                                                   ka

                                                                                        Ku 9 Sutard ji Calzoum Bachri, 1983

Meskipun makna puisi tersebut tidak diungkapkan, bentuk fisik puisi di atas membentuk makna. Puisi di atas merupakan tragedi. Pembalikan kata /kawin/menjadi /winka/ dan /kasih/menjadi /sihka/ mengandung makna bahwa perkawinan antara suami istri itu berantakan dan kasih antara suami istri sudah berbalik menjadi kebencian.

Baris-baris puisi yang membentuk zig –zag mengandung makna terjadinya kegelisahan dalam perjalanan perkawinan itu. Pada baris ketujuh, kata /kawin/ berjalan mundur. Hal ini mengandung makna bahwa cinta perkawinan yang tadinya besar, berubah menjadi semakin lama semakin mengecil. Pada baris ke lima belas kata /kawin/ sudah berubah menjadi /winka/, ini berarti percekcokan dan perpisahan sudah sering terjadi sehingga kata /kasih/ berubah menjadi /sihka/ artinya kasih itu berubah menjadi kebencian. Pada baris ke-22 kasih itu mundur sekali, sampai akhirnya tinggal kasih sebelah saja yakni tinggal /sih/. Pada akhir puisi ini kawin dan kasih itu menjadi kaku atau mati. /Ku/ diawali dengan huruf kapital menyatakan bahwa mereka kembali kepada Tuhan.

Puisi yang berjudul Tragedi Winka dan Sihka merupakan contoh dari puisi Konkret.

F.     Tema dalam Puisi

Tema biasanya merupakan hal yang tersirat dalam puisi. Jadi tidak segera tampak, namun jika kita membaca puisi dan memahami bait demi bait, akan menyusun kesan secara menyeluruh, sehingga kita akan segera mengetahui apakah tema yang dikemukakan penyair. Ada penyair yang mengemukakan tema secara jelas ada juga yang samar-samar, ada juga yang temanya sangat gelap. Tema itu masih bersifat umum dan objektif.

Perhatikan puisi berjudul Q karya Sutardji Calzoum berikut ini ! Cobalah Anda  menganalisis tema apa yang terkandung di dalamnya.

Q

                                                                 ! !

                                                                  ! ! !

                                                                          !      ! !      ! !    !

                                                                                                    !

                                                                  ! a

                                                                      lif           !    !

                                                                 l

                                                              l         a

                                                            l             a           m

                                                                                      ! !

mmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm

iiiiiiiiiiiii

mmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm

C.    SOAL

Kerjakan tugas-tugas berikut ini !

1.      Sebutkan tiga macam puisi yang dikenal dalam puisi kontemporer !

2.      Sebutkan unsur-unsur yang menonjol dalam puisi kontemporer!

3.      Kemukakan tema yang terdapat dalam puisi Tragedi Winka dan Sihka serta puisi Q karya Sutardji Calzoum Bachri.

4.      Coba jelaskan apa makna puisi Jadi di bawah ini !

Jadi

tidak setiap derita

                                    jadi luka

tidak setiap sepi

                                    jadi duri

tidak setiap tanda

                                    jadi makna

tidak setiap tanya

                                    jadi ragu

tidak setiap jawab

                                    jadi sebab

tidak setiap seru

                                    jadi mau

tidak setiap tangan

                                    jadi pegang

tidak setiap kabar

                                    jadi tahu

tidak setiap luka

                                    jadi kaca

memandang Kau

                                    pada wajahku

                                                Sutardji Calzoum Bachri


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s