cerpenku

Sapiku  BLT-mu

Karya Retno Utamiyati

 

Dukuh Sarjo duduk termangu di samping kandang menatap sapinya yang sudah tak bernafas lagi. Matanya masih berlinang air mata. Ia hanya bisa meratap, mengapa nasib sial ini menimpanya. Baru dua minggu yang lalu ia bergembira karena bisa membeli sapi idam-idaman hatinya, tapi kini…

Ia masih teringat betapa gembira hatinya ketika keinginannya terkabul. Sapi metal kepunyaan Ndiman dijual dan ia bisa membelinya dengan harga yang sangat miring. Klangenan Ndiman itu memang banyak dilirik orang. Begitu Ndiman menghadapi kesulitan keuangan dan hanya sapi itu satu-satunya harta yang ia miliki, maka Sarjo pun amat bersemangat untuk memilikinya.

”Sapi ini memang berjodoh denganku,” demikian komentar Sarjo sewaktu membayar tunai sapi itu.

”Kalau tidak terpaksa karena anakku harus operasi, aku tak akan menjualnya,” kata Ndiman menanggapi perkataan Sarjo yang terkesan menyombongkan diri.

***

Dua hari sesudah pembelian sapi, Sarjo – sebagai Dukuh Ngasem – membagikan kartu Bantuan Langsung Tunai untuk rakyatnya yang sudah terdaftar.

Dari kartu yang diterima Dukuh Sarjo ada beberapa nama yang ternyata pemiliknya sudah meninggal. Ada juga warga ngasem yang tidak mendapat  Bantuan Langsung Tunai karena alasan yang tidak jelas. Mbah Kerto, Sarmin, Mangun, dan Saijan adalah beberapa nama dari puluhan nama yang Bantuan Langsung Tunai lalu meneriman namun kali ini mangkir dari daftar yang diterima Dukuh Sarjo.

Sementara itu, kedua anak Dukuh Sarjo yang baru beberapa bulan menikah dan termasuk warga baru malah mendapatkan Bantuan Langsung Tunai.

***

”Apa sebenarnya yang telah dilakukan Dukuh Sarjo? Sementara anak-anaknya dapat BLT kita kok tidak…” kata Sarmin malam itu.

”Jangan suudzon dulu…” lerai Hadi.

Memang di pos ronda sedang berkumpul beberapa warga yang memang sengaja berkumpul untuk membahas pemberhentian kartu BLT mereka.

”Gimana gak suudzon, anak-anaknya dapat, kok kita yang periode lalu dapat, malah kali ini nihil?” serga Sarmin dengan lantangnya.

”Iya …, protes boleh tapi harus dengan kepala dingin, jangan dengan hati panas begini…!”

”Tidak bisa. Ini harus diselesaikan dengan cepat. Kalau perlu kita kudeta saja Dukuh Sarjo. Biar diganti dengan dukuh yang adil.”

”Sebentar, sebentar. Memangnya sampean mau dijadikan dukuh?” tanya Hadi masih dengan nada rendah.

”Ya…, ya…, jangan saya… ” sahut Sarmin terbata.

”Huuu….” seru orang-orang di pos ronda itu.

”Lalu bagaimana dengan BLT kita yang diberhentikan ini?” tanya Saijan mengingatkan.

”Iya, Bagaimana sebaiknya Pak Hadi?” Mbah Kerto menimpali pertanyaan Saijan.

”Ya…, sebaiknya kita tanyakan baik-baik ke Dukuh Sarjo. Mengapa kita tercoret dari daftar penerima BLT. Itu pendapat saya, bagaiman dengan yang lain?” jelas Pah Hadi.

”Kalau Pak Hadi berpendapat langkah itu yang terbaik, ya, kita ikuti saja. Bagaimana sederek-sederek?” tanya Mbah Kerto.

”Setuju…” paduan suara orang-orang membelah kesunyia malam itu.

***

Malam berikutnya, orang-orang yang tidak menerima BLT kembali berkumpul di pos ronda. Kali ini wajah-wajah mereka tampak lebih tegang. Sudah beberapa saat mereka menunggu kedatangan Hadi. Mereka pun mulai berkasak-kusuk.

”Sudah jam 9 ini… Pak Hadi ke mana?” kata salah satu warga dengan kesal.

”Jangan-jangan dia lupa?” sahut yang lain.

”Tidak mungkin. Tidak mungkin dia lupa. Dia sendiri kan yang menentukan waktunya.” serga yang lain.

” Jan… cari di rumahnya!” perintah Sarmin yang langsung diiyakan Saijan.

Saijan yang berbadan kerempeng seperti tiang listrik, berambut cepak ala tentara itu berlari dengan semangatnya mendengar perintah Sarmin. Saijan berlari kencang, sekencang-kencangnya. Sarung yang semula ia pakai ia sampirkan di pundaknya agar tidak mengganggu kecepatan larinya.

Wajah-wajah tegang itu bertambah mengencang karena menunggu Pak Hadi yang belum kunjung datang. Ditambah lagi Saijan yang belum kembali dari rumah Hadi.

Lima belas menit serasa berjam-jam mereka menunggu Saijan, barulah ia muncul dengan nafas yang masih memburu.

”Pak Hadi terserang stroke,” kata Saijan.

”Lalu bagaimana keadaannya?” sahut Mangun.

”Kata anaknya sekarang dirawat di rumah sakit kabupaten,” Saijan menjelaskan.

”Bagaimana ini? Lalu urusan kita bagaimana?” kata Sarmin menambah kecemasan warga.

”Sabar to Min. Ada orang kesusahan kok masih saja memikirkan diri sendiri,” kata Mbah Kerto mengingatkan.

”Kenapa sih kita hanya bergantung sama si Hadi itu?” Sarmin masih saja tak mempedulikan keadaan perkataan Mbah Kerto.

”Bukan begitu Min. Pak Hadi itu kan guru. Ya… walaupun baru guru tidak tetap. Dia yang bisa menjelaskan maksud kita pada Dukuh Sarjo. Kalau Pak Hadi sakit, ya, apa boleh buat. Kita tunda saja dulu rencana protes kita.” kata Mbah Kerto melerai Sarmin.

”Tidak. Kita harus tetap protes. Dan ini harus segera. Tidak bisa ditunda-tunda lagi,” kata Sarmin ngotot, ”Gimana teman-teman?” sambungnya.

”Tapi siapa yang berani menyampaikan protes kita ini? Kamu, Min?” tanya Saijan dengan suara lemah.

”Apa kamu bisa menjelaskan maksud kita tanpa emosi Min?” tanya Mangun menambahkan.

”E…, bagaimana ya…?” jawab Sarmin bingung.

”Gimana sih Min. Kamu yang paling ngotot kok disuruh mewakili tidak mau. Ya, sudah kita bubar saja,” kata Mangun lemah.

”Yo wis, bubar… bubar…” kata yang lain menyetujui Mangun.

Satu per satu mereka membubarkan diri. Hingga tinggal Sarmin seorang diri yang duduk di pos ronda. Hingga suasana dusun sepi bagai tanpa penghuni, Sarmin masih di pos ronda. Ia masih memikirkan bagaimana caranya melancarkan protes kepada Dukuh Sarjo yang tidak lain adalah kakaknya sendiri. Ia masih memikirkan kenapa dia tidak mendapatkan BLT sementara setiap kali Dukuh Sarjo ada proyek Sarmin selalu kecipratan hasilnya. Tapi ini… Jelas-jelas ini proyek yang lumayan mudah, kenapa justru namanya tercoret dari daftar?

Sejak malam itu tak ada lagi kumpul-kumpul di pos ronda untuk protes kepada Dukuh Sarjo. Mereka kembali beraktivitas seperti biasa. Yang mencangkul kembali mencangkul, yang berdagang kembali berdagang, dan yang buruh kembali pada pekerjaannya. Mereka tak lagi mempertanyakan mengapa mereka tak menerima Bantuan Langsung Tunai. Mereka tak lagi memikirkan Bantuan Langsung Tunai. Mereka tak lagi berharap bisa menerima Bantuan Langsung Tunai.

***
***

”Min…, Sarmin…!” Saijan mengetuk pintu rumah Sarmin dengan tak sabar. Dengan mata masih setengah terpejam, Sarmin membuka pintu rumahnya.

”Sapi Dukuh Sarjo mati, Min…” kata Saijan membuat mata Sarmin terbuka lebar karena kagetnya.

”Mati gimana?” tanya Sarmin seolah tak percaya.

”Mati…, ya, mati… Tak bernyawa… Mati gimana… Aneh kamu!”

”Maksudku mati karena apa?”

”Ya, ndak tahu!”

”Kamu itu giman, bawa kabar kok gak jelas begini!” sahut Sarmin menaikkan nada bicaranya.

”Maksudku, aku belum tahu…begitu aku dengar kabar kalau sapi Dukuh Sarjo mati, aku segera ke sini,” jawab Saijan membela diri.

Kematian sapi milik Dukuh Sarjo membuat hati Sarmin gelisah. Dia takut kalau-kalau Dukuh Sarjo menuduhnya karena yang terakhir kali menyentuh sapi Dukuh Sarjo adalah Sarmin. Apa mungkin sapi itu mati karena keracunan daun munggur yang tak sengaja tercampur dengan pakan ia berikan? Ataukah keracunan kulit singkong yang dia pakankan siang harinya?

Hati Sarmin semakin gundah. Hati Sarmin semakin gelisah. Kalau benar dugaan Sarmin, Sarmin akan merasa sangat bersalah kepada Dukuh Sarjo. Apalagi itu sapi klangenan Dukuh Sarjo. Dia sudah tak mempedulikan BLT lagi. Pikirannya sekarang, ia akan bekerja apa kalau sapi Dukuh Sarjo yang biasa ia urusi mati. Yang lebih ditakutkan Sarmin kalau Dukuh Sarjo curiga kepadanya dan melaporkan ke polisi. Kalau ia ditangkap polisi, tidak hanya kehilangan pekerjaan dari Dukuh Sarjo melainkan anak istrinya akan terlantar karena ia di penjara.

***

Kasak-kusuk pun tak terhindarkan lagi. Berbagai berita tak jelas sumbernya pun berkembang. Di mana ada kerumunan orang di situ tak akan lepas dari isu penyebab kematian sapi Dukuh Sarjo.

Ingatan Sarmin masih selalu terngiang akan kematian sapi Dukuh Sarjo. Ini menyebabkan Sarmin jadi malas untuk makan. Bahkan keluar rumah pun tidak ia lakukan lagi. Hal itu karena di setiap tempat yang ia datangi selalu tidak lepas dari perbincangan tentang kematian sapi Dukuh Sarjo.

Banyak opini yang berkembang. Di setiap kerumunan warga ada saja dugaan-dugaan yang muncul. Ada yang menduga matinya sapi Dukuh Sarjo karena keracunan makanan. Ada pula yang membahas penyebabnya karena digigit  ular atau kalajengking. Bahkan ada yang lebih ekstrim, ada yang berpendapat matinya sapi Dukuh Sarjo karena sengaja dibunuh seseorang karena dendam, yaitu karena dirinya tidak lagi menerima Bantuan Langsung Tunai.

*****

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s