Unsur Intrinsik Cerpen=novel

DIKTAT :

UNSUR INTRINSIK CERITA (CERPEN & NOVEL)

kompetensi:

StandarKompetensi            :

Mendengarkan : 5. Memahami pembacaan novel

Membaca           :  7. Memahami  wacana sastra puisi dan cerpen

Kompetensi Dasar              :

5.1 Menanggapi pembacaan penggalan novel dari segi vokal, intonasi, dan penghayatan

5.2 Menjelaskan unsur-unsur intrinsik dari pembacaan penggalan novel

7.2 Menjelaskan unsur-unsur intrinsik cerpen

Indikator :

  1. Menanggapi pembacaan penggalan novel dari segi vokal
  2. Menanggapi pembacaan penggalan novel dari segi  intonasi
  3. Menanggapi pembacaan penggalan novel dari segi, penghayatan
  4. Mengidentifikasikan alur penggalan novel yanng didengar
  5. Mengidentifikasikan watak tokoh penggalan novel yanng didengar
  6. Mengidentifikasikan amanat  penggalan novel yanng didengar
  7. Menceritakan kembali isi cerpen
  8. Menjelaskan unsur latar cerpen
  9. Menjelaskan watak tokoh dalam cerpen
  10. Menjelaskan amanat cerpen
  11. Mengungkapkan nilai cerpen

MATERI  PEMBELAJARAN

Unsur –unsur Intrinsik Cerpen

Cerpen merupakan kependekan dari cerita  pendek, salah satu jenis karya sastra yang berbentuk prosa. Sebuah cerpen bukanlah sebuah novel yang dipendekkan dan juga bukan bagian dari novel yang belum dituliskan. Ada yang mengatakan bahwa cerpen  merupakan  fiksi yang dibaca dalam sekali duduk  dan ceritanya  cukup dapat membangkitkan efek tertentu  dalam diri pembaca. Dengan kata lain, sebuah kesan tunggal  dapat diperoleh  dalam sebuah cerpen  dalam sekali baca.  Jadi Pengertian cerpen adalah sebuah cerita yang dapat dibaca dalam sekali duduk yang dapat menimbulkan kesan tertentu bagi pembacanya.

Untuk membedakan karya sastra prosa yang berbentuk cerpen dengan lainnya ada beberapa hal yang dapat dijadikan pedoman mengenal cerpen, yaitu sebagai berikut.

  1. Dapat dibaca selesai sekali duduk
  2. Biasanya didasarkan pada insiden tunggal ( beralur tunggal ), dan peristiwa yang terbangun tidak sampai menimbulkan  perubahan kejiwaan tokohnya
  3. Dapat menimbulkan kesan tertentu pada pembacanya
  4. Menceritakan sebagian kecil kehidupan tokoh yang paling menarik,
  5. Pengembangan tokoh ( karakter ) jarang dilaksanakan
  6. Berkecenderungan  penokohan secara langsung ( analitik )
  7. Karena bentuknya yang pendek, cerpen menuntut penceritaan yang serba ringkas, tidak sampai pada detil-detil khusus yang “kurang penting” yang lebih bersifat memperpanjang cerita.

Unsur Instrinsik Cerpen

Cerpen sebagai karya fiksi dibangun oleh dua unsur yaitu intrinsik (dalam) dan ekstrinsik.( luar). Hal yang pelu diperhatikan adalah unsur-unsur tersebut membentuk kesatuan yang utuh. Dalam hal ini, satu unsur akan mempengaruhi unsur lainnya.

Unsur instrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra itu sendiri, unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra. Atau dengan kata lain unsur instrinsik merupakan unsur yang secara faktual dapat dilihat dari karyasastra itu sendiri  atau unsur yang melekat pada tubuh karya sastra itu. Untuk lebih jelasnya, perhatikan pembahasan tentang unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam cerpen.berikut ini.

  1. 1.      Tema

Tema disebut juga ide sentral atau makna sentral suatu cerita. Tema merupakan jiwa cerita dalam karya fiksi. Tema juga dapat diartikan pokok permasalahan sebuah cerita yang terus menerus dibicarakan sepanjang cerita.

Cerpen hanya berisi satu tema karena ceritanya yang pendek. Hal itu berkaitan dengan keadaan jalan cerita yang juga tunggal dan tokoh (pelaku) yang terbatas. Tema dapat kita dapat setelah kita membaca secara menyeluruh (close reading) isi cerpen. Dengan demikian, tema ada tersamar dalam cerita.
Tema yang diangkat dalam cerpen biasanya sesuai dengan amanat/ pesan yang hendak disampaikan oleh pengarangnya. Tema menyangkut ide cerita. Tema menyangkut keseluruhan isi cerita yang tersirat dalam cerpen. Tema dalam cerpen dapat mengangkat masalah persahabatan, cinta kasih, permusuhan, dan lain-lain. Hal yang pokok adalah tema berhubungan dengan sikap dan pengamatan pengarang terhadap kehidupan.

 

2. Tokoh dan penokohan

Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita rekaan sehingga peristiwa itu menjalin suatu cerita.  Tokoh ini dimunculkan dengan tingkah laku, perbuatan, peristiwa dan kejadian secara wajar, hidup dan menarik sehingga membuat alur cerita menjadi lebih realistis atau lebih sesuai dengan kenyataan hidup sehari-hari

Penokohan adalah cara sastrawan menampilkan tokoh. Sedangkan cara sastrawan memberikan watak kepada setiap tokohnya adalah perwatakan

Ada dua cara yang sering digunakan pengarang melukiskan tokoh cerita:

  1. a.        Secara langsung (ekspositoris, anallitis) adalah apabila pengarang langsung menguraikan atau menggambarkan keadaan tokoh artinya watak tokoh dituturkan bersifat deskriptif. Dengan teknik ini pengarang dengan singkat dapat mendeskripsikan kedirian tokoh cerita. Misalnya, dikatakan bahwa tokoh cerita cantik, tampan, jelek, wataknya keras, cerewet, iri, jujur,  dan sebagainya.

Penulis juga bisa membuat deskripsi mengenai bentuk tubuh dan wajah tokoh-tokohnya. Yaitu tentang cara berpakaian, bentuk tubuhnya, dan sebagainya. Tapi dalam cerpen modern cara ini sudah jarang dipakai. Dalam fiksi lama penggambaran fisik kerap kali dipakai untuk memperkuat watak.

  1. b.        Secara tidak langsung (dramatik) adalah apabila pengarang secara tersamar dalam memberitahukan wujud atau keadaan tokoh ceritanya. Pengarang membiarkan/ menyiasati para tokoh cerita untuk menunjukan kedirianya sendiri melalui berbagai aktivitas yang dilakukan, baik secara verbal lewat kata maupun nonverbal lewat tindakan atau tingkah laku, dan juga melalui peristiwa yang terjadi.

Cara tidak langsung ini dapat menggunakan bebrapa teknik antara lain

1)        Dialog antartokoh

2)        Tingkah laku/ perbuatan tokoh

tindakan-tindakan para tokoh, terutama sekali bagaimana ia bersikap dalam situasi kritis. Watak seseorang memang kerap kali tercermin dengan jelas pada sikapnya dalam situasi gawat (penting), karena ia tak bisa berpura-pura, ia akan bertindak secara spontan menurut karakternya: Situasi kritis di sini tak perlu mengandung bahaya, tapi situasi yang mengharuskan dia mengambil keputusan dengan segera.

Contoh :

Darmaji tidak berani menjawab lagi. Matanya menunduk ke atas meja. Dalam hatinya dia mengumpat Senggring, tapi apa daya dia Cuma pegawai biasa.

(Senggring, Budi Darma)

Dari kutipan di atas dapat diketahui watak Darmaji dengan melihat tingkah laku dalam cerita sehingga dapat diketahu watak Darmaji yang takut terhadap atasan walau sengguhnya ia tudak suka dan membencinya.

3)        Pikiran dan perasaan tokoh

Melukiskan apa yang dipikirkan oleh seorang tokoh adalah salah satu cara penting untuk membentangkan perwatakannya. Dengan cara ini pembaca dapat mengetahui alasan-alasan tindakannya.
Contoh :

Tukang sayur ini agaknya bisa menebak isi otakku. Sambil melirik pada dagangannya ia berkata,”Mari Nyonya Muda, masak apa hari ini? Cap Cay? Sup Ayam? Atau Pak Lay?”

Tak terasa mukaku memerah. Pertama aku tersirap dengan panggilan baruku”Nyonya Muda” dan kedua aku merasa diejek. Walau mungkin si Pendekntukang sayuritu hanya bergurau. Tapi benar-benar menyentuh harga diri kantong suamiku. Brlagak tenang aku berkata,”hari ini aku mau masak…masak sayur….”

“kemarin sayur, sekarang gulai, dong, Nyah!”

“Enggak,kami tak suka gulai, Bang. Bikin tekanan darah tinggi.”

(Meja Gambar, Titis Basino)

Watak tokoh “aku” dalam penggalan cerpen di atas apat diketahui dari jalan pemikiran tokoh. Watak tokh “aku” di atas adalah dia mampu meyembunyikan diri dari kekurangannya.Melalui ucapan-ucapan tokoh. Dari apa yang diucapkan oleh seorang tokoh cerita, kita dapat mengenali apakah ia orang tua, orang dengan pendidikan rendah atau tinggi, sukunya, wanita atau pria, orang berbudi halus atau kasar, dan sebagainya.

4)        Reaksi tokoh lain

5)        Pelukisan latar / melukiskan keadaan sekeliling tokoh

 

  1. 3.        Plot atau alur

Alur adalah urutan atau rangkaian peristiwa dalam cerita rekaan. Urutan peristiwa cerita secara kronologis dapat disusun sebagai berikut:

  1. Pengenalan atau situation atau eksposisi

Dalam bagian ini, pembaca dibawa untuk mengetahui bagaimana benih-benih konflik bisa muncul. Dalam hal ini, masih ada taraf pengenalan bagaimana hadirnya tiap tokoh (terutama tokoh utama).

  1. Konflik muncul / pertikaian
    Munculnya konflik ini disebabkan hadirnya pertentangan, baik paham, pandangan, maupun emosi, yang membuat hubungan antartokoh menegang. Bisa juga adanya pertentangan batin dalam diri sang tokoh. Munculnya benih konflik ini, biasanya akan dibedakan hadirnya tokoh yang baik dan jahat. Konflik yang muncul menimbulkan gesekan sehingga jalan cerita akan dibawa semakin memuncak. Timbulnya konflik yaitu terbentuknya plot yang juga berhubungan erat dengan unsur watak, tema, bahkan juga setting.
  2.  Konflik memuncak atau klimaks
    Konflik yang memuncak disebut juga klimaks. Dalam hal ini, pertentangan antartokoh akan membuat masalah berada dalam titik kulminasi (puncak). Konflik yang memuncak ini semakin membedakan bagaimana tiap tokoh bertindak, baik dengan cara maupun pikirannya masing-masing.
  3. Peleraian
    Konflik mereda muncul setelah tegangan tokoh dalam cerita menemukan jalannya masing-masing. Konflik yang mereda hadir karena posisi masing-masing tokoh sudah ada jawabannya masing-masing.
  4. Penyelesaian
    Penyelesaian muncul sebagai titik akhir dari permasalahan yang telah memuncak. Dalam tahap ini, para tokoh telah menemukan nasibnya masing-masing. Dalam pembacaan cerita, penyelesaian ini akan membawa pembaca pada kesimpulannya masing-masing, yaitu menyangkut watak tokoh bahkan pembelajaran apa yang bisa diambil. Hal ini disebabkan konflik adalah inti cerita yang muncul dan biasa ditunggu dan dinikmati

 

Berdasarkan gerak atau urutan kejadian alur dibedakan

  1. Alur maju atau progresif

Peristiwa yang dikisahkan bersifat kronologis, peristiwa yang pertama diikuti oleh peristiwa kemudian atau peristiwa pertama menyebabkan munculna peristiwa selanjutnya. Bisa jug dikatakan secara runtut cerita dimulai dari tahap awal (dalam tahapanalur di atas) sampai tahap penyelesaian, lebih jelas digambar sebagi berikut:

A————B———–C————-D————-E

(A : perkenalan, B : pemunculan konflik, dan seterusnya)

 

  1. b.   Alur mundur atau regresif atau flash back

Peristiwa disini tidak bersifat kronologis. Perisiwa tidak dimulai dari tahap awal,malainkan dimhlai dari tahap tengah atau bahkan akhir, baru kemudian tahap awal cerita dikisahkan. Seperti digambarkandi bawah ini:

 

D1————-A————-B————-C———–D2—————-E

  1. c.    Alur gabungan

Alur yang digunakan adalah gabungan dari kedua alur diatas, atau kedua laur di atas dipakai bersama-sama. Seperti terlihat dalam gambar di bawah:

 

Alur mundur                masa kini                       alur maju

 

 

 

 

 

4.Amanat

Amanat adalah ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang melalui karyanya. Amanat dapat disampaikan secara implisit yaitu dengan cara memberikan ajaran moral atau pesan dalam tingkah laku tokoh menjelang cerita berakhir, dapat pula secara eksplisit yaitu dengan penyampaian seruan, saran, peringatan, nasehat, anjuran, larangan yang berhubungan dengan gagasan utama cerita.

5.  Sudut pandang

Sudut pandang mengacu pada cara sebuah cerita dikisahkan. Ini merupakan strategi, teknik atau siasat yang dipergunakan pengarang untuk menyampaikan gagasan atau idenya dalam cerita dan  sarana untuk menyajikan tokoh,tindakan,latar, dan berbagai peperistiwa yang membentuk cerita. Lebih singkatnya sudut pandang adalah tempat engarang memandang ceritanya.

  1. a.        Akuan (Orang I )

Dalam hal ini yang bercerita adalah aku. Tokoh yang muncul dalam cerita “aku”. Gaya pencerita akuan dibedakan menjadi dua, yaitu

1)      Akuan pelaku utama, yaitu tokoh aku sebagai pusat cerita (tokoh utama)

2)      Akuan pelaku sampingan, yaitu tokoh aku sebagai pelaku sampingan saja. Artinya, ada tokoh lain (selain aku) yang lebih menjadi pusat cerita.

 

  1. b.        Diaan (Orang III)

Yang dimaksud sudut pandang orang ketiga adalah sudut pandang bercerita di mana tokoh pencnerita tidak terlibat dalam peristiwa-peristiwa cerita. Di sini pengarang memakai istilah “ia” atau “dia” atau memakai nama orang. Sudut pandang orang ketiga ini disebut juga gaya penceritaan diaan. Gaya pencerita diaan dibedakan menjadi dua, yaitu

1)        Pencerita diaan serba tahu, yaitu pencerita diaan yang tahu segala sesuatu tentang semua tokoh dan peristiwa dalam cerita. Tokoh ini bebas bercerita dan bahkan memberi komentar dan penilaian terhadap tokoh cerita.

2)        Pencerita diaan terbatas, yaitu pencerita diaan yang membatasi diri dengan memaparkan atau melukiskan lakuan dramatik yang diamatinya. Jadi, seolah-olah dia hanya melaporkan apa yang dilihatnya saja.

  1. 6.    Latar

Latar/setting disebut juga landas tumpu, menunjuk pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.

Adapun jenis latar dan contohnya sebagai berikut.

  1. Latar tempat, menunjuk pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam sebuah karya fiksi. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu, inisial tertentu, mungkin lokasi tertentu tanpa nama jelas.

Contoh :

Pada suatu malam ia berdiri di simpang jalan di muka kantor polisi yang bersebelahan dengan sebuah gedung yangsudah berusia seabad dan berhadapan dengan bekas benteng Belanda dan di belakangan berdiri jam kota yang tegak megah seperti tugu, tetapi jarumnya selalu menunjukan pukul dua kurang lima menit. ( Dalam Kelam, Motinggo Busye)

Kutipan cerpen di atas yang dicetak miring menunjukan latar tempat.

 

  1. Latar waktu, berhubungan dengan masalah kapan terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakandalam sebuah karya fiksi.

Contoh :

Pada suatu malam ia berdiri di simpang jalan di muka kantor polisi yang bersebelahan dengan sebuah gedung yangsudah berusia seabad dan berhadapan dengan bekas benteng Belanda dan di belakangan berdiri jam kota yang tegak megah seperti tugu, tetapi jarumnya selalu menunjukan pukul dua kurang lima menit. ( Dalam Kelam, Motinggo Busye)

 

  1. Latar sosial, merujuk pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan sosial masyarakat di suatu tempat yangdiceritakan dalam karya fiksi. Tata cara kehidupan social masyarakat mencakup berbagai masalah dalamlingkup yang cukup kompleks. Ia dapat berupa keadaan masyarakat, kebiasaan hidup, adat istiadat, tradisi, keyakinan, pandangan hidup, cara berpikir dan bersikap, juga berhubungann dengan status social tokoh yang bersangkutan.

Contoh :

Namanya Bu Marto. Lengkapnya Martokusumo. Tentu itu nama suaminya. Atau tepatnya “nama tua” almarhum suaminya.

Sebab di Jawa, adalah hal yang mustahil anak laki-laki endapat nama Martokusumo sejak dai lahirnya. Terlalu tua kedengarannya, dan terlalu berat bobotnya. Martokususno, adalah nama yang baik dan memeang berbobot. Nama itumenunjukan bahwa si pembawa nama itgubukan nama kebanyakan. Artinya bukannama

seorangpetani dusun yang hanya punya beberapa jengkal tanah atau yang memburuhkan tenaganya untuk menggarap beberapa bahu sawah. Atau bukan juga ama seorang tukang gerobak yang sehari-hari menyewakan gerobaknya mengangkut apa saja untuk dibawa ke mana saja.

(Sri Sumarah dan Bawuk)

 

Pelukisan latar soaial sangat terlihat, ketika seorang bernama Martokusumo, jelas dia bukan anak-anak atau orang sembarangan. Dia pasti orang terpandang atau bahkan seorang bangsawan. Kondisi ini dapat dilihat dari kebiasaan orang dari suku Jawa yngmemberikan nama tua kepada seseorang. Ketiga jenis latar tersebut terkadang muncul sebagai satu kesatuan yang padu dan membentuk latar secara lengkap.

 

 

 

  1. A.    SOAL

Baca cerpen Sapiku BLT-mu secara intensif! Sambil membaca, catat unsur-unsur di dalamnya  disertai data yang mendukung! Gunakan tabel pencatat berikut!

 

No

Unsur intrinsik

Data pendukung/ bukti kutipan

1 Tema:  
2 Alur:  
3 Tokoh dan penokohan:  
4 Latar :  
5 Sudut pandang:  
6 Amanat:  

Dengan berpedoman hasil catatanmu ceritakan kembali cerpen “Sapiku BLT-mu” dengan menggunakan bahasamu sendiri!

Catatan : cerpen dapat di download di : www.utami46@wordpress

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s